[JALAN-JALAN] RAMMANG RAMMANG, bag.2

Setibanya di Dermaga III pada Desa Berua; sampai disini saya kira wisata sudah selesai. Hampir anti klimaks, karena belum melihat tempat-tempat yang seperti saya liat di Google. Hahahaha.

Tapi ternyata saya salah. Dengan biaya masuk sebesar tiga ribu rupiah per orang, kami masuk ke Desa Berua.

Masya Allah.. Allah Maha Besar.. Teman-teman akan disajikan dengan suasana desa yang bagaikan lukisan karya alam sejauh mata memandang. .
Kolam ikan, hamparan sawah, ternak, pegunungan kapur, rumah-rumah tradisional. Landscaping yang hampir sempurna.

20663824_10155602436458756_7963535342932594659_n

Menurut warga sekitar, Desa Berua ini hanya di huni oleh 10 kepala keluarga saja yang hanya mendiami 10 rumah saja.

Beruntung Bapak banyak berbicara dengan penduduk setempat, jadi bisa dapat banyak cerita langsung dari penduduk setempat. Hahaha

Hampir semua penduduk di Desa Berua ini berprofesi sebagai petani. Namun sayangnya saat kami datang sedang bukan musim tanam. 

20638492_10155602434983756_5395240918582779112_n

Advertisements

[JALAN-JALAN] RAMMANG RAMMANG, bag. 1

Salah satu tempat wisata alam di Makassar yang wajib di kunjungi. Tempat ini belum cukup di kenal, jadi masih sangat alami.

Desa Rammang rammang. Desa ini tepat berada ditengah-tengah kawasan pegunungan kars. Dikelilingi dengan tebing-tebing besar dari pegunungan Kars.

Dalam bahasa Makassar, “rammang” berarti “awan” atau “kabut”. Jadi desa ini bisa di katakan sebagai desa awan. Karena menurut cerita warga sekitar saat berbicara dengan Bapak, bahwa desa ini saat pagi selalu di tutupi awan atau kabut.

Lokasi rammang rammang terletak di desa Selerang, Kecamatan Bontoa, Maros. Kira-kira sekitar 49.6 km dari utara pusat kota Makassar. Sekitar 1.5 jam – 2 jam perjalanan.

Kebetulan kami berangkat dari hotel sekitar jam 8 pagi dan sampai di sana jam 9 pagi.

Untuk bisa masuk ke Desa Rammang rammang, kita harus melewati sungai Pote dengan menggunakan perahu.

Biaya untuk perahu sendiri mulai dari 200 ribu – 350 ribu. Tergantung pada kapasitas perahu. Kami menyewa perahu dengan kapasitas 7-8 orang dengan biaya 250 ribu rupiah.

20664707_10155602236403756_4880579976177920716_n
Ada tiga dermaga untuk menuju Desa Berua. Kebetulan kami memulai dari Dermaga I. Dari dermaga I menuju Desa Berua akan memakan waktu 40-60 menit. Karena lokasi dermaga I berada di paling ujung.

Teman-teman akan di suguhi pemandangan yang tidak bisa di ucapkan dengan kata-kata. Pertama mungkin akan ada perasaan takut karena kita harus menyusuri sungai yang mirip seperti film “Anaconda”… Hahaha

Selanjutnya saya sendiri sampai tidak berhenti bersyukur bisa melihat keindahan alam ini. Tebing-tebing tinggi, ekosistem tumbuhan gambut dan rangkaian batu-batu di beberapa titik sungai.

Masing-masing dari dermaga di sungai ini punya beberapa kelebihan. Teman-teman juga bisa mampir di beberapa spot bebatuan yang bagus untuk di foto.

Bagi teman-teman yang memulai dari Dermaga II. Untuk menuju dermaga III akan memakan waktu lebih cepat, sekitar 20-30 menit.

20708048_10155602335378756_4464276940014353052_n.jpg

 

[KULINER] ES PALLUBUTUNG

Selain memesan Es Pisang hijau, saya juga memesan Es Pallubutung.

Es Pallubutung ini tidak berbeda jauh dengan es pisang hijau.
Bedanya hanya pisang tidak di balut dengan adonan warna hijau.

Pisang hijau di biarkan tanpa balutan adonan hijau. Lengkap dengan tambahan bubur sumsum, es dan siraman sirup merah khas makassar..
😍😍😍😍😍😍😍

20621886_10155595818338756_4690829070321254134_n
Lokasi : Kios Kawaii / Kios Hawaii
di jalan Ranggong tepatnya di ujung jalan Ranggong yang tembus ke jalan di Pantai Losari
Harga : Rp. 15.000,-


#KhasMakassar
#Kuliner
#Dessert
#PulangKampung
#Jalanjalan
#EsPallubutung

[KULINER] ES PISANG IJO

Siapa yang ga kenal kuliner satu ini. Salah satu dessert khas dari makassar.

Es Pisang Ijo 😍😍😍

Pisang raja yang manis dan lembut di kukus, kemudian di balut oleh adonan tepung berwarna hijau. Kemudian di kukus. Di sajikan dengan bubur sumsum, es dan di siram sirup merah khas makassar.

Langsung nyessss rasanyaaa… Hahaha

Kebetulan malam ini saya janjian dengan salah satu teman Volunteer yang pindah ke Makassar. 
Dan di ajaklah sama bang Ian / @xtianpal ke salah satu resto yang menyajikan es pisang ijo yang enak. 
20638834_10155595805533756_8200934898429929393_n

Nama Resto : Kedai Kawaii / Kedai Hawaii
Harga seporsi Es Pisang Ijo adalah Rp 20.000
#EsPisangHijau
#KhasMakassar
#Kuliner
#Jalanjalan
#PulangKampung

 

[KULINER] Pallu basa Alas

Ini dia salah satu makanan kesukaan Bapak. Pallu basa Alas..

Alas disini berarti pallu basanya di tambah dengan kuning telur mentah yang jadi alasnya.

Nahh, yang paling terkenal itu namanya Pallu Basa Serigala, karena terletak di jalan Serigala. Tempatnya selalu ramai karena sudah banyak di rekomendasikan oleh banyak orang.

20664540_10155602040853756_8022284799273767737_n.jpg

Alamat: Jl. Serigala
Harga :
Pallu basa 18rb
Pallu basa Alas 21rb

Waktu Buka: Setiap Hari (kecuali hari raya) Pukul 09.00 pagi – 08.00 malam

#Kuliner
#Makassar
#Pallubasa

 

[JALAN-JALAN] : Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang

Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang (Jum Pandang) adalah sebuah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Letak benteng ini berada di pinggir pantai sebelah barat Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ kallonna. Awalnya benteng ini berbahan dasar tanah liat, namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin konstruksi benteng ini diganti menjadi batu padas yang bersumber dari Pegunungan Karst yang ada di daerah Maros

Di kompleks Benteng Ujung Pandang kini terdapat Museum La Galigo yang di dalamnya terdapat banyak referensi mengenai sejarah kebesaran Makassar (Gowa-Tallo) dan daerah-daerah lainnya yang ada di Sulawesi Selatan. Sebagian besar gedung benteng ini masih utuh dan menjadi salah satu objek wisata di Kota Makassar.

Masuk kedalam area benteng ini, kamu bisa melihat banyak koleksi dari peninggalan raja-raja Makassar terdahulu berikut dengan detail kebudayaan dari Makassar.

Di bagian luar, kamu bisa melihat dinding benteng yang masih utuh dan beberapa yang sudah hancur akibat di makan usia.

20708455_10155599109503756_1460658981172834961_n

Source : Wikipedia
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Fort_Rotterdam 

 

————–
Biaya masuk : Gratis
Museum : 5 ribu

#Museum
#Makassar
#Jalanjalan

[KULINER] Mie Titi

What’s for dinner?

Mie Titi.. 
😍😍😍😍

Salah satu kuliner favorite saya setiap ke Makassar.

Nah, yang cukup terkenal dan punya ciri khas karena di masak menggunakan arang dan mie keringnya komplit dengan berbagai campuran daging dan sayur ini ada di Datumuseng.

Mie keringnya enak super garing ditambah isian daging seafood seperti udang, baso ikan, cumi, yang super banyak.

Buat yang belum tau mie titi. Mie Titi ini terdiri dari mie yang digoreng kering dan disiram tumisan sayur, ayam, baso ikan, daging, dan udang ini mirip seperti i fu mie.  Bedanya kalo i fu mie, mie yang dipake biasanya mie keriting, sedangkan Mie Titi, mienya lurus, kuning dan tipis.  Kuah siramnya mirip seperti capcay dengan toping yang bisa dipilih sesuai selera.

Alamat : Jl. Datumuseng No. 23B
Waktu Buka : Senin – Minggu (Termasuk Hari Raya ) 12.00 Siang – 03.00 Subuh
Harga Menu : Rp. 18.000 – Rp. 19.000 / Porsi

20604663_10155593035763756_8974744829704603609_n

Pulang Kampung Makassar (Sulawesi Selatan), 7 Agustus 2017

[KULINER] Sop Ubi Hj. Haniah, DatuMuseng, Makassar

Pilihan pertama Bapak dan saran dari Om Adi saat ingin makan siang yang sudah cukup telat setelah silaturahmi ke salah satu kerabat di Makassar di hari pertama, Sop Ubi Hj. Haniah yang terletak di Jalan DatuMuseng.

Saya kira ini sejenis makanan manis dengan isian Ubi. Ternyata tidak jauh beda dengan Coto Makassar. Hanya saja, kuahnya bening sama seperti sop umumnya.

Sop daging berisi daging kuah jernih dengan isian tauge dan bihun yang cukup, telur rebus dan sebagai tambahan utama, singkong goreng yang di potong dadu kecil, di taburan seledri dan bawang goreng yang banyak. Dan jangan lupa perasan jeruk nipis yang membuat sop ubi jadi lebih segar.

Enakkkk.

Mama sampai takjub saat melihat saya bisa makan semua tauge yang ada di makanan. Maklum, saya tidak suka sayuran. Tapi tauge yang ada di Sop Ubi ini enak dan manis karena sepertinya di rebus lebih dulu sehingga tidak mengeluarkan bau khas tauge, saya jadi bisa menyantapnya dengan lahap.

Pelengkap lain untuk makan Sop Ubi ini pastinya burasa dan kacang tanah goreng. Makin mantab rasanya. 😍😍

Alamat : Jl. Datumuseng (Dalam Lorong) (Samping RS Stella Maris), Makassar
Jam Buka : setiap hari pukul 10:00-21.00 WITA
Harga: Rp 20.000 /porsi (sekarang sdh Rp 25.000)

20604531_10155592996103756_2858913391048352128_n

Pulang Kampung, Makassar (Sulawesi Selatan), 7 Agustus 2017

Amazing Journey : ACEH (HSBC Volunteer)

Tidak pernah saya sangka ternyata ikut aktif dalam kegiatan CSR di kantor bisa membuat salah satu mimpi saya mengunjungi tanah rencong, Aceh menjadi kenyataan. Aceh adalah salah satu kota yang ingin saya kunjungi. Terlebih lagi setelah kejadian gempa bumi dan disusul oleh tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 yang telah meluluhlantakkan kota serambi mekah tersebut. Lebih dari 230,000 jiwa tewas akibat bencana alam tersebut. Dan kini, 12 tahun sudah Aceh melewati masa-masa itu.

Sebagai TOP 3 HSBC Volunteer 2014-2015, Saya, Ka Festo , dan Ka Candi di berikan kesempatan untuk mengunjungi SOS Children’s Village di Banda Aceh. HSBC sendiri menjadi salah satu corporate partner dari SOS Children’s Village sejak 2010. Dan salah satu bukti komitmen HSBC dengan SOS Children’s Village adalah seringnya mengadakan kegiatan volunteer di beberapa SOS Children’s Village yang ada di Indonesia, seperti di Jakarta (Cibubur), Lembang, dan bahkan TOP 3 HSBC Volunteer 2013 yang lalu di berikan kesempatan untuk mengunjungi SOS Children’s Village di Flores. Dan Tahun ini , saya dan teman-teman berkesempatan untuk  mengunjungi SOS Children’s Village di Banda Aceh.

SOS Children’s Village di Banda Aceh terletak di Lamreung, sekitar 7km dari pusat kota, sebuah daerah yang tenang dikelilingi sawah. Terdiri dari 15 rumah keluarga, pusat komunitas, aktivitas, perpustakaan, alat-alat musik dan tempat berlatih menari, serta sebuah aula multiguna dan beberapa tempat tinggal untuk para pekerja lainnya. Karena 98% masyarakat Aceh adalah muslim, sebuah masjid dibangun juga di SOS Children’s Village sebagai sarana kegiatan Ibadah. SOS Desa Taruna ini menawarkan rumah baru untuk 150 anak yatim-piatu dan terlantar. Di Aceh sendiri, berdiri dua SOS Children’s Village di Lamreung Aceh Besar dan di Meulaboh. Hal ini di karenakan kedua daerah ini adalah daerah yang cukup parah kerusakannya saat terjadi bencana tsunami kala itu.

—–

Setibanya kami di Bandar udara internasional Sultan Iskandar Muda, kami di jemput oleh Bang Ray (Salah satu penanggung jawab di SOS Children’s Village Banda Aceh). Di ajaknya kami berkeliling kota Aceh sambil menunggu waktu sholat Jum’at. Mengunjungi beberapa komunitas binaan SOS Children’s Village dan beberapa fasilitas serta rumah-rumah yang dibangun atas bantuan dari SOS Chidren’s Village setelah bencana gempa bumi dan tsunami yang melanda Aceh di tahun 2004.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Taman kanak-kanak / PAUD di Lambada Lhlook, kabupaten Aceh Besar. Tempat ini dibangun atas bantuan dari Schneider Electric dan SOS Desa Taruna. Ada sekitar 70 siswa yang terdaftar di taman kanak-kanak ini. Kami juga sempat berbincang dengan beberapa guru dan kepala sekolah ini yang ternyata merupakan saksi hidup dari kejadian bencana tsunami. Beliau terseret sejauh 2 km dari rumahnya yang lokasinya tepat di belakang sekolah ini. Selain fasilitas seperti sekolah ini, SOS Desa Taruna juga membantu membangun kurang lebih 250 rumah yang tersebar di Aceh pasca kejadian bencana tsunami.

Dari sini kami melajutkan perjalan ke Mesjid Masjid Raya Baiturrahman Aceh, karena sudah tibanya waktu sholat Jum’at. Mesjid megah yang menjadi saksi bisu bencana tsunami Aceh. Masjid itu hampir tanpa cedera saat tsunami menerjang kota dan tetap berdiri kokoh sementara air yang masuk hanya sebatas mata kaki orang dewasa.

13882370_10154377882708756_2388977399967591889_n.jpg

Lokasi kedua yang kami kunjungi adalah tempat salah satu komunitas binaan SOS Desa Taruna. SOS Desa Taruna sendiri bekerja sama dan melakukan binaan dengan beberapa komunitas yang ada dan berkembang di sekitar wilayah Aceh besar. Beberapa diantaranya adalah Komunitas Bayu, Komunitas Lamreung, Komunitas Lamcot, Komunitas Lampeunerut Gampong, Komunitas Kandang. Masing-masing komunitas punya berbagai kegiatan yang bermanfaat di setiap daerah mereka. Adapun beberapa kegiatan mereka adalah, home industry untuk para ibu rumah tangga, kelas-kelas pelajaran mengaji, bahasa inggris, bahasa arab untuk anak-anak dan beberapa bidang keahlian untuk anak-anak remaja.

Kami mendatangi Komunitas Lamcot. Dimana para ibu rumah tangga di desa ini di kenali, di ajari dan di bina untuk bisa mengembangan produk olahan oleh-oleh makanan khas Aceh. Salah satu kue khas yang mereka buat dan jual adalah kue karah. Bentuknya seperti sarang burung walet, enak di makan dengan secangkir the atau kopi  panas. Kue ini menjadi salah satu hantaran wajib pada prosesi pernikahan Aceh. Jangan ditanya bagaimana cara membuatny.. hahahaha.. Saya sendiri masih takjub dengan proses pembuatannya.

Akhirnya setelah beberapa kunjungan tadi, selanjutnya kami menuju SOS Children’s Village di Lamreung. Tak disangka, ternyata kedatangan kami di tunggu  oleh anak-anak SOS Children’s Village. Tak sampai hati membayangkan berapa lama mereka mempersiapkan semuanya.. Ahhh.. they are so adorable.. So cute.. lengkap dengan pakaian adat khas Aceh.

13886242_10154378443538756_392746715149319549_n

Akhirnya kami bisa beristirahat di salah satu rumah khusus yang disediakan untuk tamu SOS Children’s Village. Kegiatan kami sore harinya adalah mengelilingi lingkungan sekitar SOS Children’s Village dan melihat beberapa kegiatan yang ada disana. Kebetulan hari itu, anak-anak penuh dengan kegiatan, antara lain, sepak bola, panjat tebing, taekwondo, dan berkebun. Ramai, seru, dan menyenangkan. Malam harinya pun tidak kalah menyenangkan. Mendapatkan jamuan makan dari salah satu rumah di SOS Desa Taruna. Makan bersama dengan makanan khas Aceh yang lezat dan nikmat.

 

—————————-

Hari kedua kami di SOS Children’s Village di awali dengan mengantarkan anak-anak di SOS Desa Taruna yang akan berangkat sekolah. Ada kebiasaan disini, sambil menunggu mobil jemputan tiba, anak-anak kumpul di depan aula dan selalu cium tangan orang tua atau orang yang lebih tua. Disini terlihat sekali hubungan antara Bapak dengan anak-anak di SOS Desa Taruna. Sambil bercanda mereka menceritakan kegitan yang mereka biasa lakukan di sekolah. Riuh dan penuh canda tawa.

Kegiatan kami selanjutnya setelah ini adalah menjadi Guru TK. Kapan lagi bisa mencoba profesi menjadi seorang Guru TK. Hahaha..

13925239_10154383092938756_4212461202088747474_n

13920773_10154380278813756_3954558391745984829_n

Di dalam lingkungan SOS Children’s Village ini ada sebuah TK yang berisi dua kelas dengan jumlah murid sekitar 30 – 40 anak (jika semua anak datang). Dan kali ini kami bertiga (Saya, Candi, dan Festo) beserta Mas Yudhi, Angga dan Mba Iffa akan ikut serta dalam kegiatan mereka di dalam kelas. This is so FUN! Mereka anak-anak yang lucu, ceria, manis, dan bersemangat.

Lumayan juga yaaa jadi guru TK setengah hari.. Dunia kecil mereka sungguh menakjubkan. hahaha.

Next, kita lanjutkan jadwal kita dengan city tour Aceh, mulai dari mengunjungi Museum tsunami dan ke tempat PLTD Apung 1 yang terseret 5km saat terjadi tsunami, beberapa wisata kuliner dan diakhiri dengan mengejar sunset di pantai Lhokmee.

18766044_10155357659848756_3806550635369685478_n

13906583_10154381289708756_757058255103160662_n

Museum Tsunami. Lebih dari 230,000 ribu korban tewas akibat gempa bumi dan disusul oleh tsunami yang terjadi di bumi Aceh tahun 2004 terdokumentasikan dalam museum ini. Saat masuk ke sebuah lorong dengan simulasi seakan-akan kita berada pada kondisi yang sama seperti saat tsunami saat itu. Merinding, takut dan ingin menangis. Terbayang teriakan orang-orang yang lari, minta tolong, dan menyelamatkan diri dari ombak setinggi 9 meter lebih yang mendekat. Kemudian masuk kedalam sebuah ruangan yang berisi nama-nama korban tsunami di isi dengan lantunan ayat suci Al-qur’an. Sungguh kita merasa kerdil di hadapan-Nya.

PLTD Apung 1. Salah satu bukti kedahasyatan gelombang tsunami yang menerpa pesisir utara Banda Aceh. Sebuah monumen yang menjadi peringatan bagi siapapun terhadap dahsyatnya kekuatan alam.
Monumen PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) Apung di Desa Punge, Blancut, Banda Aceh. Kapal ini merupakan sumber tenaga listrik bagi wilayah Ulee Lheue – tempat kapal ini ditambatkan sebelum terjadinyatsunami.

Kapal dengan panjang 63 meter ini mampu menghasilkan daya sebesar 10,5 megawatt. Dengan luas mencapai 1.900 meter persegi dan bobot 2.600 ton, tidak ada yang membayangkan kapal ini dapat bergerak hingga ke tengah Kota Banda Aceh. Kapal ini terseret gelombang pasang setinggi 9 meter sehingga bergeser ke jantung Kota Banda Aceh sejauh 5 kilometer dan terhempas hingga ke tengah-tengah pemukiman warga, tidak jauh dari Museum Tsunami.

Setelah keliling kota Aceh dan mengunjui beberapa tempat wisata di Aceh. Malam harinya, kami mendapat undangan makan malam dari salah satu komunitas binaan SOS Desa Taruna. Tempat ini adalah asrama pria anak-anak SOS Desa Taruna yang sudah beranjak dewasa. Makan malam dengan menu khas Aceh, Ayam tangkap (Favorite selama di Aceh). Makan malam ala garden party, lengkap dengan bunga, lilin, dan musik akustik. Disini kami berkesempatan untuk berbagi cerita mengenai dunia kerja, pengalaman, dan bagaimana cara bersosialisasi di dunia kerja. What a nice dinner!

13925390_10154381463733756_5737007597478781974_n

——————-

Hari ketiga kami dan ini adalah hari terakhir kami di SOS Children’s Village di Banda Aceh. Kenapa terasa singkat kunjungan kami. Padahal kami baru saja akrab dengan beberapa anak di SOS Desa Taruna. Baru saja kami bisa bercanda gurau. Dan sekarang kami sudah harus pamit.

Pagi ini rencananya kami semua akan berkumpul di aula dan melakukan beberapa kegiatan sekaligus memberikan hiburan untuk kami sebelum kami meninggalkan tempat ini. Diawali dengan sambutan dari pihak SOS Children’s Village Banda Aceh kemudian di lanjutkan dengan penampilann tari Ranup Lampuan.  Sebuah tarian yang menggambarkan filosofi masyarakat Aceh yang ramah dalam menyambut tamu. Dilanjutkan lagi oleh tarian yang dibawa oleh anak-anak Sekolah Dasar kelas satu dan dua, permainan alat musik perkusi dari anak-anak SMP yang mengagumkan dan beberapa pertunjukkan solois dari anak-anak SOS Desa Taruna. Saya tidak menyangka kalo anak-anak SOS Desa Taruna ternyata punya banyak bakat terpendam… hahaha. Saya bahkan sempat berduet dengan salah satu dari mereka, menyanyikan lagu Bunda, versi Aceh dan versi Melly Goeslaw. Hahahaha

13912329_10154383216598756_336534711390517933_n.jpg

Sedih, senang, bahagia, terharu, apalagi perasaan yang bisa saya dan teman-teman dari HSBC dapat sampaikan atas semua kesempatan yang sudah diberikan kepada kami untuk bisa mengenal lebih jauh mengenai kegiatan di SOS Desa Taruna. Sungguh pengalaman yang tidak terlupakan.

Terima kasih sebesar-besarnya kepada HSBC, Mba Nuni dan Mas Yudhi, atas kesempatan yang di berikan, karena melalui kegiatan CSR ini, salah satu mimpi saya dapat terwujud. Terima kasih kepada SOS Children’s Village Banda Aceh, Bang Ray, Ka Iffa, Angga, Ka Lena, dan semua orang yang tinggal di SOS Desa Taruna. Sungguh pengalaman yang luar biasa dan menyenangkan  bisa mengenal teman-teman semua. Semoga kita semua dapat di pertemukan kembali dalam kegiatan yang lain. Aamiin.

13886316_10154383198543756_8097966016381024893_n

13906996_10154383584388756_50602030328469170_n

Aceh, 5 – 12 Agustus 2016

 

 

Remind your self that you have not lost Allah…

WhatsApp Image 2018-05-30 at 11.13.37

Terkadang kita lupa bahwa sesungguhnya kita teramatlah kecil di mataNya.

Kita tidak tahu sama sekali, sedang Allah Subhanahu wa ta’alla Maha Mengetahui.

Kadang kita selalu menyalahkan Allah atas apa yang terjadi pada diri kita, padahal semuanya itu hasil dari kesombongan dan keangkuhan kita.